Pilih Laman

Dalam pengelolaan keuangan pribadi, sebenarnya kuncinya hanya satu: pengendalian arus kas.

Saat Anda bisa menentukan dengan baik, uang sebaiknya dialokasikan ke mana saja, untuk tujuan apa saja, plus bisa tahu perjalanan penghasilan Anda dari awal gajian hingga tiba waktunya gajian lagi, maka bisa dibilang Anda sudah cukup berhasil mengatur arus kas keuangan pribadi Anda.

Tapi, yah namanya juga hidup. Dalam prosesnya, nggak jarang kita harus menemui banyak kesulitan. Wajar sih, cuma kadang yang membuat kesal adalah kesulitan itu justru datang dari diri kita sendiri, yang lantas berakibat kacaunya arus kas yang sebenarnya sudah terkendali.

Seperti apa misalnya?

5 Hal yang Dapat Mengacaukan Arus Kas Keuangan Pribadi

5 Hal yang Dapat Mengacaukan Arus Kas Keuangan Pribadi tanpa Anda Sadari

1. Lapar mata

Lapar mata awalnya dipahami sebagai kondisi ketika kita sebenarnya enggak pengin makan, tapi pengin mengunyah. Kecenderungan ini muncul ketika Anda sedang jalan-jalan, lagi santai, lagi nonton televisi yang lagi ada acara kulineran atau masak-masaknya, atau lagi baca buku yang juga ada bagian makanannya.

Namun, seiring waktu dan perkembangan pergaulan, lapar mata juga diasosiasikan dengan kebiasaan emotional spending atau impulsive buying; yaitu belanja tanpa rencana, yang biasanya disebabkan oleh rasa emosional atau tanpa keperluan.
Nah, sudah jelaslah di sini ya, betapa bahayanya lapar mata ini terhadap usaha pengendalian arus kas keuangan pribadi kita. Hal ini tampaknya sepele sih, tapi memang bisa berbahaya.

Di zaman teknologi maju seperti sekarang, pun di tengah pandemi COVID-19 seperti ini pun, kebiasaan lapar mata juga enggak berkurang.

Lagi lihat-lihat di marketplace karena mau ngecek harga sepeda, eh … kok malah checkout food processor ya? Hmmm ….

2. Sulit menolak

Apa hubungannya dengan pengendalian arus kas? Wah, erat banget deh hubungannya.

Taruhlah Anda sudah piawai mengelola keuangan pribadi Anda, tapi kalau Anda adalah tipe orang yang sulit menolak, wah, besar kemungkinan arus kas keuangan pribadi juga bisa terancam.

Misalnya, Anda sulit menolak diajak nongkrong di kafe after hours, padahal gaji sudah mepet tanggal tua. Anda juga sulit menolak ajakan belanja bareng, padahal kartu kredit Anda juga sudah limit. Anda sulit menolak rayuan teman yang mau pinjam uang, padahal Anda sendiri butuh untuk beli laptop yang rusak.

Nah, kan, sadar kan sekarang pentingnya kemampuan untuk menolak ini?

Jadi, berlatihlah untuk bilang, “Tidak.” pada mereka jika memang Anda tidak ingin melakukan hal apa pun yang bukan menjadi keinginan Anda. Satu patah kata ini bisa menyelamatkan arus kas keuangan Anda loh!

3. Selalu pakai kartu debit

Mencatat pengeluaran sangat membosankan dan membuat jenuh! Nggak semua orang bisa melakukannya secara konsisten. Alasannya, sibuk, enggak ada waktu, dan lain sebagainya.

Bye bye mencatat ala tradisional, kita tak perlu lagi mencatat pengeluaran setiap belanja, menurut saya sih tinggal pakai kartu debit sehingga rekening koran nantinya bisa di audit, tujuannya untuk kita lebih mudah mengendalikan arus kas pribadi ; kita jadi tahu, jika misalnya ada pengeluaran yang tak perlu sehingga bisa diperbaiki lagi ke depannya.

Di akhir bulan, atau menjelang gajian berikutnya, Anda dapat melihat perjalanan keuangan Anda dalam rekening koran, dan tahu apa yang kurang tepat penggunaan dana serta bisa merencanakan sesuatu untuk memperbaikinya.

Jangan malas mengaudit ya.

4. Gengsi dan FOMO

Orang memang punya gaya hidupnya masing-masing. Ini semua terkait oleh banyak hal, mulai dari kondisi latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, budaya, dan lain-lain, terutama soal kemampuan finansial.

Ada yang memang mampu, ada yang kurang tetapi mau menerima nasib dan berusaha. Nah, ada pula yang sebenarnya kurang mampu, tetapi merasa mampu sehingga memaksakan diri. Yang terakhir ini nih yang bisa membahayakan arus kas keuangan pribadi.

Apalagi di zaman media sosial ini. Dengan mudah kita melihat orang lain sedang apa dan punya apa. Kadang hal inilah yang membuat kita FOMO, alias fear of missing out. Gengsi banget kalau belum punya barang yang sedang tren sekarang. Hal ini bisa berbuah kita susah untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Yah, enggak apa kalau memang FOMO dan pengin ikut dalam keramaian tren masa kini, tetapi pastikan arus kas sudah terkendali dengan baik; kebutuhan primer sudah tercukupi, cicilan utang sudah aman, pun investasi sudah sesuai dengan rencana.

5. Malas membuat shopping list

Ini juga sebenarnya hal sepele, tapi bisa banget membuat kacau arus kas keuangan pribadi kita loh.

Saat kita berbelanja tanpa shopping list, atau daftar belanja, maka di situ bakalan terjadi peluang untuk lapar mata, seperti yang sudah disebutkan di poin pertama tadi. Karena godaan saat kita di tempat belanja itu besar sekali, jika tanpa kita pegang shopping list. Mulai dari diskon, cashback, buy 1 get 2, serta berbagai bentuk gimmick marketing lainnya.
Tanpa pakai daftar belanja, bisa-bisa kita datang dengan rencana A, pulang dengan barang B, C, D, sampai Z, yang bahkan kita sebenarnya enggak perlu-perlu amat.

Jadi, sebaiknya buatlah shopping list sebelum Anda berbelanja. Ini juga bisa Anda lakukan dengan kebiasaan new normal ini, saat belanja online. Tetap buat shopping list, sehingga ketika iseng scroll marketplace, Anda tetap mendapatkan barang-barang yang sungguh Anda butuhkan.

Iya, beberapa kebiasaan kecil di atas kadang kita lakukan tanpa menyadarinya. Paling terasa ketika uang di dompet atau tabungan terkuras habis, tanpa kita tahu ke mana perginya. Anda punya tambahan lain? Boleh ditulis di kolom komen ya!

Yuk, ubah kebiasaan sedikit demi sedikit, agar arus kas keuangan pribadi Anda terkendali.