Pilih Laman

Konon, katanya you only live once. Bukan omong kosong belaka sih, sebenarnya. Karena memanglah kita hanya hidup sekali saja di dunia ini, begitulah kepercayaan kita. Dan lantaran hal ini, banyak orang yang akhirnya terkena jebakan finansial.

Sebenarnya memanjakan diri sendiri itu enggak salah, karena sebagai manusia, kita memang punya kebutuhan untuk itu. Namun, ada baiknya dibarengi pula dengan keterampilan mengelola keuangan pribadi kita. Dengan demikian, selain menikmati hidup, kita pun memastikan masa depan kita juga terjamin.

Sayangnya, terlalu banyak ketidakseimbangan terjadi, terutama oleh generasi milenial, terkait perencanaan keuangan mereka, sehingga keinginan untuk kekinian besar tetapi kurang terampil mengelola penghasilan, sehingga banyak yang terjebak dalam utang, nggak punya tabungan, nggak punya dana darurat, nggak siap pensiun, hidup from paycheck to paycheck, dan berbagai masalah keuangan yang lain.

Apa saja jebakan finansial yang sering mengancam generasi milenial sehingga dapat menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari ini? Coba kita lihat yuk!

Jebakan Finansial Milenial

7 Langkah Mengatur Keuangan Pribadi dengan Gaji 3 Juta

1. Membiayai hobi terlalu besar

Setiap orang memang sebaiknya punya hobi. Hobi itu memang bagus banget buat keseimbangan kesehatan mental, terutama buat kita yang sehari-harinya sudah bekerja keras untuk hidup. Hobi membawa rasa bahagia, karena dengan menekuni hobi, kita sudah melakukan apa yang kita suka. Hormon kebahagiaan terpompa keluar dengan deras, sebagai imbangan agar kita tetap produktif berkarya.

Tapi eh tapi, hobi juga butuh biaya. Satu kemungkinan, sekali di awal kita menekuninya, bisa jadi masih tampak murah. Tetapi lama kelamaan, seiring keterampilan bertambah, kita butuh tools dan pendukung lain yang kalau dibeli juga lumayan harganya. Misalnya saja, hobi fotografi. Awalnya cukup dengan handphone, lalu merasa butuh kamera mirrorles, terus tambah lensa, tripod, dan segala macam printilannya. Lama-lama terasa banget kalau kita membiayai hobi dengan anggaran yang terlalu besar, sampai-sampai menggerogoti anggaran belanja rutin.

Lain kemungkinan, kita memang punya hobi yang mahal. Misalnya, lagi ngetren bersepeda. Nggak puas dengan membeli sepeda seharga satu dua juta, kita jadi membeli sepeda yang harganya puluhan juta, atas nama ada harga ada kualitas. Padahal, hobi bersepeda ini hanya bertahan dua tiga bulan saja.

Duh. Sungguh jebakan finansial yang bikin kantong jebol. Cobalah untuk membuat pos anggaran khusus untuk hobi, agar tidak mengganggu anggaran belanja. Dengan demikian, Anda “hanya” menggunakan sesuai anggaran saja, dan kalau anggaran sudah habis, Anda pun bisa mengerem keinginan untuk terlalu banyak belanja hobi.

2. Belanja impulsif

Belanja impulsif adalah belanja tanpa rencana. Belanja memang bisa menjadi salah satu hal yang membawa kebahagiaan, karena dengan belanja, hormon endorfin bekerja yang membuat kita jadi bahagia. Ya, kurang lebih sama dengan menekuni hobi secara berlebihan di atas.

Misalnya, lagi jalan-jalan di mal, dengan maksud pengin merilekskan pikiran. Begitu keluar dari mal, kantong belanjanya ada sebelas biji. Semua dibeli, karena kapan lagi dapat diskon begini? Lagi ada midnight sale nih!

Jangan salah, belanja impulsif tak hanya berlaku kalau kita belanja di mal saja loh sekarang. Marketplace dan lapak-lapak di media sosial juga turut menambah racun belanja online, sehingga sangat sulit ditolak. Maunya hanya scroll mencari kabel data, ternyata checkout sekalian dengan gadget-nya.

Menangyslah ketika melihat saldo tabungan di ewallet ataupun ATM tinggal sedikit.

Jebakan Finansial yang Mengancam Generasi Milenial

3. Jajan setiap hari

Jajan kopi kekinian yang satu liter, boba, dan sebagainya, pesannya lewat aplikasi online yang ongkos kirimnya separuh dari harga makanannya, dan pesan bolak-balik sampai sehari lima kali.

Coba deh dihitung-hitung. Ini juga merupakan jebakan finansial yang kadang enggak disadari oleh generasi milenial, generasi zaman now pemanfaat teknologi yang sudah berkembang pesat.

Sehari ongkos kirim Rp50.000. Seminggu 5 hari, misalnya. Sudah menyedot Rp250.000. Sebulan? Satu juta dong, buat ongkos kirim makanan saja.

Pantas saja kan, enggak pernah ada “sisa” untuk investasi? Padahal Rp1 juta untuk investasi saham, bisa dapat saham emiten blue chip loh! Diinvestasi per bulan, 6 tahun lagi, mungkin kamu sudah siap untuk DP rumah pertama.

4. Membership tanpa efektif

Membership gym untuk masa sekarang–saat pandemi corona belum juga selesai–mungkin sudah berkurang. Tetapi, berganti jadi langganan streaming film, musik, dan lain sebagainya.

It’s ok sih kalau memang (lagi-lagi) hati senang, tapi pastikan Anda memang memakainya ya. Ya, kalau langganan musik ya di-play setiap hari untuk menemani Anda bekerja lebih produktif. Begitu juga kalau Anda berlangganan streaming film. Pastikan Anda memang banyak waktu untuk menontonnya.

Efektif, itu dia kuncinya. Jika Anda sudah berlangganan dan membayar membership tetapi jarang banget memanfaatkan layanannya, ya kan jadi terbuang percuma uangnya. Lebih baik berhenti langganan, dan manfaatkan uang untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

5. Berburu gadget terbaru

Punya gadget terbaru dan tercanggih itu semacam menambah kekerenan 7 kali lipat.

Memang sih, gadget terbaru itu ekuivalen dengan gengsi dan prestise. Apalagi yang harganya belasan juta. Tetapi, masalahnya, apakah memang perlu untuk selalu mengupdate gadget dengan versi terbarunya?

Jika memang perlu dan sangat esensial, Anda bisa membuat anggarannya, agar Anda dapat mempertahankan cash flow yang sehat untuk keuangan pribadi Anda. Jika tidak, anggaran untuk membeli gadget terbaru ini bisa memengaruhi pos pengeluaran lain, yang bisa membawa masalah besar.

Sekali lagi, think about needs. Tentang kebutuhan, bukan keinginan semata.

Nah, apakah Anda masih saja membiarkan diri Anda sendiri masuk ke dalam jebakan finansial seperti di atas? Kalau iya, ada baiknya Anda melakukan financial check up terhadap keuangan Anda sendiri sekarang. Cek dan cermati, apakah ada keseimbangan antara pengeluaran dan pemasukan? Berapa rasio utang Anda? Berapa rasio saving Anda? Cek lagi semuanya ya.

Semoga, tidak terlalu parah, dan Anda tetap memiliki arus keuangan yang sehat.