Pilih Laman

Halo, Anda yang masih berusia 20-an! Masa depan cerah terbentang di depan Anda. Pengin hidup seperti apa, menjadi pilihan, dan rencanakanlah sedari sekarang. Salah satu hal penting yang harus mulai menjadi perhatian adalah cara mengelola keuangan yang baik.

Mengapa?

Seperti kata pepatah lama, uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang. Dan, uang–tanpa perencanaan dan pengelolaan yang baik–akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Sudah banyak kasus orang-orang yang terjerembap lantaran kurang baik dalam pengelolaan uang.

Jangan sampai Anda melakukan beberapa kesalahan keuangan yang umum dilakukan oleh yang lain berikut ini.

5 Kesalahan Mengelola Keuangan yang Sering Dilakukan

Kesalahan Mengelola Keuangan yang Sering Dilakukan oleh Anda yang Berusia 20-an

1. Tak anggap penting budgeting

Di usia ini, banyak dari Anda yang baru merasakan memiliki penghasilan sendiri, pertama kalinya berusaha hidup mandiri. Betul? Karena itu, nafsu untuk memenuhi semua keinginan kadang menjadi tak terkendali.

Padahal, Anda harus ingat. Yang namanya gaji itu bisa habis. Bahkan tanpa terasa. Gaji satu koma empat, gajian tanggal satu, sudah koma di tanggal 4. Itulah akibat dari menganggap enteng budgeting di awal bulan.

Budgeting, atau membuat anggaran, merupakan satu langkah penting jika Anda ingin dapat mengelola keuangan dengan baik. Ya, mulailah belajar dari sini, selanjutnya langkah-langkah pengelolaan lainnya akan lebih mudah bagi Anda.

Enggak perlu terlalu rumit kok. Anda hanya perlu memisahkan gaji Anda per pos pengeluaran. Misalnya saja, Anda membaginya dalam 4 pos pengeluaran besar, yaitu pos untuk kebutuhan hidup (makan, transportasi, bayar sewa kos, dan sebagainya), pos untuk investasi (minimal sebesar 10%), pos cicilan utang (maksimal 30%), dan pos lain-lain, yang bisa Anda gunakan untuk memberi reward pada diri sendiri.

Anda bisa memisahkannya ke dalam amplop-amplop, atau catat saja di aplikasi keuangan. Selanjutnya, Anda perlu untuk mencatat pengeluaran, untuk kemudian bisa dikomparasikan dengan budget plan Anda.

2. FOMO dan YOLO

‘Fear of missing out’ dan ‘you only live once’ adalah dua jargon kekinian yang sebenarnya bisa menjebak kita ke dalam gaya hidup boros, tanpa perhitungan.

Lihat postingan foto teman yang sering liburan ke luar negeri, pengin. Cari segala cara supaya bisa ikutan ke luar negeri, sampai-sampai “tega” berutang kanan-kiri demi bisa berangkat.

Lihat tetangga beli mobil baru, pengin. Terus dibelain ambil kredit pinjol. Lihat semua orang pakai sepeda, mau ikut juga. Beli merek B, yang sampai puluhan juta. Padahal dipakai juga sekali dua kali doang.

Well, it’s ok kalau mau jadi hypebeast. Tapi, lihat kondisi diri sendiri deh. Jika Anda saja masih suka mengeluh gaji satu koma empat, lebih baik perbaiki kebiasaan FOMO dan YOLO ini. Pikirkan jauh ke masa depan akan lebih baik.

7 Langkah Mengatur Keuangan Pribadi dengan Gaji 3 Juta

3. Menganggap masa pensiun masih jauh

Mau pensiun di usia berapa?

Ih, baru juga mulai kerja, masa sudah ditanya pensiun? Masih jauh dong! Senang-senang dulu sajalah.

Well, itu dia yang membuat Anda jadi melakukan kesalahan dalam mengelola keuangan pribadi Anda. Masa pensiun memang terlihat masih jauh, tapi percayalah, akan semakin dekat dan dekat lebih cepat, tanpa Anda sadar.
Tahukah Anda, menyiapkan masa pensiun sedini mungkin itu jauh lebih menguntungkan dan ringan ketimbang Anda baru memikirkannya 4 – 5 tahun sebelum mulai pensiun?

Katakanlah, untuk menjalani masa pensiun sejahtera dari usia 60 tahun sampai 85 tahun (sebagai angka harapan hidup), Anda bisa butuh dana miliaran rupiah, dan dana sebesar ini harus Anda dapatkan dengan kondisi zero income karena Anda sudah tak produktif lagi. Dari mana Anda bisa mendapatkan dana tersebut jika tanpa disiapkan terlebih dahulu selama Anda masih bekerja?

Dan, tentu saja, secara perhitungan kasar yang logis pun, jika Anda mulai menyiapkannya di usia 20 tahun akan menjadi lebih ringan ketimbang jika Anda baru mulai menyiapkannya di usia 40 tahun, bukan?

4. Dana darurat? Nanti sajalah!

Karena uang nganggur itu kan sayang sekali, bukan? Mendingan diputar lagi untuk bisnis, atau pakai saja untuk liburan atau beli gadget terbaru.

Padahal ya, dana darurat itu ya untuk kondisi darurat. Dan, gadget terbaru bukan termasuk “sesuatu yang darurat”, betul?
Dana darurat merupakan jaring pengaman kita kalau ada kondisi mendesak, misalnya musibah atau hal lain yang butuh dana dengan segera. Pun, dana darurat akan sangat berguna ketika kondisi sedang tak pasti, seperti saat pandemi sekarang ini.

Kalau kita tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan, kita hanya bisa menyambung napas dengan dana darurat sampai mendapatkan penghasilan stabil kembali. Ya kan, dalam hidup, siapa yang bisa menjamin semua lancar dan lurus-lurus saja, bukan? Di sinilah dana darurat berperan.

5. Menggunakan kartu kredit tanpa strategi

Masih muda, sudah punya pekerjaan, baru saja approve aplikasi kartu kredit … wah! Berasa kaya deh.

Itulah yang menjadi kesalahan mengelola keuangan umumnya mereka yang berusia 20-an. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sekarang juga baru saja mendapatkan kartu kredit pertama? Selamat ya!

Namun, sebelum dipakai lebih banyak, Anda harus tahu strategi terbaik berutang kartu kredit. Utang dengan kartu kredit tidak dilarang kok, tetapi Anda harus tahu betul bagaimana cara memanfaatkannya dengan baik, agar manfaatnya benar-benar bisa Anda nikmati.

Menggunakannya untuk belanja impulsif, atau cash advance tanpa perencanaan yang matang, dan membayar cicilan dengan minimum payment selama bertahun-tahun padahal bisa saja dilunasi, bukanlah merupakan strategi penggunaan kartu kredit yang baik.

Nah, bagaimana? Apakah Anda saat ini melakukan salah satu, beberapa, atau malah semua kesalahan mengelola keuangan di atas?

Kalau iya, ada baiknya Anda segera duduk dan mencari solusi untuk mengatasi masalah ini sebelum semakin besar dan membebani hidup Anda.